|
Indonesia kembali mengukir momentum baru, dengan diselenggarakannya debat Calon Presiden RI 2009 - 2014, ini menjadi yang pertama dalam sejarah demokrasi di Indonesia, dan juga semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara demokrasi terdepan dikawasan Asia Tenggara, dan negara demokrasi terbesar ketiga didunia. Terlepas dari materi dan tata cara penyelenggaraan debat capres, kita patut memberikan apresiasi kepada pihak penyelenggara yang memberikan sebuah terobosan bagi iklim demokrasi.
Debat capres putaran pertama dengan tema "Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Menegakkan Supremasi Hukum dan HAM" yang sudah diselenggarakan tadi malam di studio TransTV, memang berjalan datar dan kurang menarik. Tidak ada hal-hal baru yang dipaparkan oleh ketiga kandidat capres ini. Bahkan esensi dari debat itu sendiri tidak muncul kepermukaan, yang ada justru semacam dialog dua arah antara kandidat capres dengan moderator. Lantas dimana makna debat itu sendiri? Harapan saya (dan bisa jadi sebagian besar rakyat Indonesia) sebelum menyaksikan acara ini mungkin terlalu tinggi. Keinginan menyaksikan sebuah acara debat berkualitas tinggi seperti yang dilakukan capres Obama dengan McCain beberapa bulan lalu, akan terjadi di acara ini. Tapi sayang seribu sayang, harapan tinggalah harapan. 1 jam pertama menyaksikan acara ini, kesan bosan begitu cepat menghampiri. Acara debat yang seharusnya memberikan wacana baru mengenai pertukaran pendapat, adu argumentasi, dan pertukaran ide antar capres demi memajukan tata kelola pemerintahan justru tidak ada sama sekali. Yang membuat kita heran adalah, diluar sana, pada saat acara kampanye politik. Semua kandidat capres saling serang, saling baku hantam, kritik mengkritik baik secara halus maupun secara terang-terangan. Kenapa diacara debat ini justru semuanya malah saling mendukung? Contoh saja, Saat pertanyaan kepada Capres Jusuf Kalla mengenai slogan "lebih cepat lebih baik", SBY menanggapi bahwa dirinya setuju dengan slogan itu. Padahal faktanya dilapangan, saat kampanye SBY menyindir slogan JK dengan kalimat yang kira-kira berbunyi, "lebih cepat dan tepat, buat apa cepat tapi tidak tepat sasaran?". Begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya, Kandidat capres baik Mega, Sby, dan Jk, semuanya kompak saling mendukung pernyataan masing-masing. Apakah ini karena "aturan" yang sudah ditetapkan? yang sebagian isinya mengenai tidak boleh menjadikan ajang debat sebagai arena saling menjatuhkan dan saling serang? Kalo memang iya, buat apa acara debat capres putaran II, III, dan seterusnya harus tetap dilaksanakan? Toh esensi debat itu sendiri sebenarnya tidak ada. Bagi saya ini tak lebih dari sebuah basa basi politik. Bagaimana dengan Anda?
|
on screen keyboard tidak akan kesimpa...
pake on screen keyboard kesimpen ma k...
komputer name bisa di ganti/dirubah.....
ah gak siip, tetep aja masih kebuka b...