.

Form Login

Polls

Info IT apa yang paling banyak Anda cari?
 

Ads Premium

Latest Comments

Indonesian Blog Directory


server monitor

W3Counter

Memahami kembali konsep ANTRI
Written by Eka Kurniawan   
Monday, 15 June 2009 12:13

 Pada umumnya kita sudah mengetahui definisi dari kata "antri" atau ada juga yang menyebutnya dengan sebutan "antre". Antri bisa diartikan dengan membentuk sebuah baris berurutan dan berbanjar kesamping atau kebelakang, atau bisa juga dengan istilah FIFO "First In First Out", atau FCFS "First Come First Service",  yang pertama masuk maka ia yang pertama keluar, yang pertama datang maka ia yang pertama dilayani.

 

Didunia barat, konsep antri ini sudah membudaya. Niat mereka untuk antri sudah tidak diragukan lagi. Mereka sadar betul dengan posisinya, untuk memenuhi suatu kepentingan bersama disuatu tempat yag sama, siapapun orangnya yang berdiri paling depan akan mendapatkan prioritas yang pertama dan tidak ada keinginan untuk mendahulukan dirinya ataupun minta didahulukan dari orang lain. Apakah ini ada hubungannya dengan faktor pendidikan dan demokrasi? jawabannya bisa jadi, mereka sudah terbiasa hidup dengan model ini selama ratusan tahun, dan menghargai hak-hak orang lain.

Artikel-artikel OPINI menarik lainnya :

Crime of passion pada kaum homoseksual
Facebook kini menebar ancaman
Akankah twitter mengalahkan dominasi facebook?
Akhir pekan yang dinanti

 

Bagaimana dengan negara kita?

Pernah suatu waktu saya sedang berbelanja di Alfamart didaerah Karawang, Jawa Barat. Sebenarnya di toko ini disediakan 2 buah meja kasir untuk melayani pembeli, namun berhubung petugasnya sedang tidak masuk, maka hanya satu buah kasir saja yang dijalankan. Hal ini menyebabkan menumpuknya jumlah pembeli yang akan melakukan pembayaran. Para pembeli pun antri dengan tertib, begitu juga dengan saya yang dengan sabar menunggu giliran untuk dilayani.

Sekitar 15 menit kemudian, dengan tergesa gesa datanglah seorang ibu muda berseragam PNS rapi, menghampiri meja kasir. Secara spontan saya berkomentar, "Bu, kita kan dari tadi ngantri disini..". Ibu itu kemudian menjawab, "maaf mas, saya lagi buru-buru nih, ada keperluan penting". Saya pun menjawab lagi, "kita disini juga punya urusan penting". Tapi ibu ini tidak menjawab, dan tetap berdiri dimeja kasir, minta dilayani terlebih dahulu oleh kasir. Akhirnya kasir pun melayani ibu ini. kemudian seorang bapak-bapak dibelakang saya yang berkata kepada saya, "Udah mas, biarin aja". Saya jawab,"gak bisa gitu dong pak, kita kan dah lama berdiri disini, masa main nyelonong gitu, kayak gak pernah sekolah aja". Pada saat saya mendapatkan giliran, saya berkata kepada petugas kasir tersebut, "mas, kalo bisa bayar seperti ibu tadi, saya gak perlu repot antri lama-lama". Dan saya pun berlalu.

 

Dari kejadian tersebut, kesimpulan apa yang dapat kita ambil? Apakah ibu tersebut tidak berpendidikan? Jelas salah, dari atribut dan seragam yang dipakai, jelas dia seorang terpelajar. Lantas dimana salahnya? Yang pasti kembali kepada diri kita sendiri. Mulai sekarang kita harus bisa menghargai keberadaan orang lain, menghargai sebuah proses yang sedang berjalan dengan teratur, menyadari bahwa kepentingan bukanlah milik kita sendiri, tapi juga milik orang lain. Apakah ini yang menyebabkan mengapa korupsi begitu membudaya di negara kita? sebuah budaya buruk yang diawali dengan kebiasaan ingin mencapai sesuatu dengan cara instan tanpa mengikuti proses dan konsep yang teratur dan tertib.

Saat ini, gaung PILPRES sedang menggema di seantero negeri. Banyak pihak yang mengingingkan figur seorang capres yang jujur, bersih, adil, berwibawa, pro rakyat, dll. Bagaimana kita menginginkan supaya mereka berbuat adil, sedangkan untuk hal-hal kecil (seperti konsep antri tadi) saja kita tidak bisa memberikan keadilan bagi orang lain?

Semoga dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua, untuk menjadikan bangsa kita lebih beradab dan bermartabat.

 

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

INGIN BERLANGGANAN ARTIKEL IT DARI EKA KURNIAWAN ONLINE ?

Copyright © 2008 by Eka Kurniawan. All right reserved
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License